Beton Mutu Tinggi

Kemarin kepikiran untuk membuat sebuah tulisan di sini. Kebetulan malam harinya aku membuat sebuah makalah tentang perkembangan teknologi beton yang ada saat ini. Nah aku kali ini ingin menuliskan tentang sebuah teknologi beton yang ada saat ini, yaitu beton mutu tinggi (high strength concrete).

HIGH STRENGTH CONRETE

Oleh :

Andi Aprizon dan Pramudiyanto

Pendahuluan

High strength concrete merupakan sebuah tipe beton performa tinggi yang secara umum memiliki kuat tekan 6000 psi (40 MPa) atau lebih. Ukuran kuat tekannya diperoleh dari silinder beton 150 mm – 300 mm atau silinder 100 mm – 200 mm pada umur 56 ataupun 90 hari, ataupun umur yang telah ditentukan tergantung pada aplikasi yang diiningkan. Produksi high strength concrete membutuhkan penelitian dan perhatian yang lebih jauh terhadap kontrol kualitasnya daripada beton konvensional

Sejarah Singkat

Sejarah singkat dari perkembangan high strength concrete dapat dijabarkan berikut ini. Pada akhir tahun 1960-an, admixture untuk mengurangi air (superplasticizer) yang terbuat dari garam-garam naphthalene sulfonate diproduksi di Jepang dan melamine sulfonate diproduksi di Jerman. Aplikasi pertama di Jepang yaitu digunakan untuk produk girder dan balok pracetak dan cetak di tempat. Di Jerman, awalnya ditujukan untuk pengembangan campuran beton bawah air yang memiliki kelecakan tinggi tanpa terjadi segregasi. Sejalan dengan kemungkinan tercapainya mutu beton yang tinggi dan workability yang tinggi secara simultan pada campuran beton dengan pemakaian superplasticizer, maka pemakaian kedua bahan tersebut dianggap sangat cocok digunakan pada produksi komponen-komponen struktur cetak di tempat untuk bangunan-bangunan tinggi.

Beton didefinisikan sebagai “high-strength” semata-mata berdasarkan karena kuat tekannya pada umur tertentu. Pada tahun 1970-an, sebelum ditemukannya superplasticizer, campuran beton yang memperlihatkan kuat tekan 40 MPa atau lebih pada umur 28 hari disebut sebagai high strength concrete. Saat ini, saat campuran beton dengan kuat tekan 60 MPa – 120 MPa tersedia di pasaran, pada ACI Committae 2002 tentang High Strength Concrete merevisi definisinya menjadi memperoleh campuran dengan kuat tekan desain spesifikasi 55 MPa atau lebih.

Meskipun tujuan praktisnya adalah untuk menyatakan kuat tekan beton berdasarkan hasil uji pada umur 28 hari, namun terdapat pergeseran untuk menyatakan kekuatan pada umur 56 atau 90 hari dengan alas an bahwa banyak elemen-elemen struktur yang tidak terbebani selama kurun waktu dua atau tiga bulan atau lebih. Saat kekuatan yang tinggi tidaklah diperlukan pada umur-umur awal, akan lebih baik untuk tidak menyatakannya hanya untuk mencapai sejumlah keuntungan misalnya penghematan semen, kemampuan untuk menggunakan bahan-bahan tambah (admixture) secara berlebihan dan produk yang lebih durable.

Beberapa puluh tahun yang silam, bangunan-bangunan tinggi yang ada di New York hampri seluruhnya merupakan bangunan dengan rangka baja. Saat ini, mungkin sepertiga dari bangunan-bangunan tinggi komersial dibuat dengan rangka beton bertulang. Terdapat sebuah penilaian yang diyakini bahwa pemilihan antara rangka baja dengan rangka beton bertulang ditentukan berdasarkan kecepatan konstruksi yang tinggi. Juga, ketersediaan high strength concrete secara komersial memberikan sebuah penilaian ekonomis alternatif untuk membangun kolom dengan beton konvensional pada lantai-lantai bawah dari bangunan-bangunan tinggi. Berdasarkan sebuah laporan, kapasitas kolom-kolom dalam hal kemampuan menahan beban pada bangunan-bangunan berlantai banyak meningkat 4,7 kali untuk setiap lipat tiga kenaikan harga. Untuk konstruksi bangunan-bangunan yang menggunakan rangka beton bertulang, 30 lantai atau lebih, kolom-kolom dengan ukuran normal dapat dibuat pada sepertiga bagian dari bangunan dengan mutu beton konvensional 30 MPa sampai dengan 35 MPa. Namun pemakaian high strength concrete dibenarkan untuk kolom-kolom langsing pada duapertiga bagian bawah dari bangunan.

Mengapa kita membutuhkan high strength concrete? Beberapa alasan yang dapat diberikan di sini antara lain:

  • Untuk menempatkan beton pada masa layannya pada umur yang lebih awal, sebagai contoh pada perkerasan di umur 3 hari.

  • Untuk membangun bangunan-bangunan tinggi dengan mereduksi ukuran kolom dan meningkatkan luasan ruang yang tersedia.

  • Untuk membangun sruktur bagian atas dari jembatan-jembatan bentang panjang dan untuk mengembangkan durabilitas lantai-lantai jembatan.

  • Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus dari aplikasi-aplikasi tertentu seperti durabilitas, modulus elastisitas dan kekuatan lentur. Beberapa dari aplikasi ini termasuk dam, atap-atap tribun, pondasi-pondasi pelabuhan, garasi-garasi parkir, dan lantai-lantai heavy duty pada area industri.

Material

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam campuran high strength conrete antara lain:

  1. Semen

Semen Portland (PC) umum pada berbagai tipe (yang memenuhi spesifikasi standar ASTM C 150) dapat digunakan untuk memperoleh campuran beton dengan kekuatan tekan sampai dengan 50 Mpa. Untuk mendapatkan kuat tekan yang lebih tinggi saat mempertahankan workability yang baik, sangat perlu untuk menggunakan admixture yang dikombinasikan dengan semen. Pada kasus tersebut, kompabilitas semen-admixture menjadi sebuah hal yang penting.

Pengalaman telah memperlihatkan bahwa, dengan penggunaan tipe superplasticizer naphthalene sulfonate atau melamine sulfonate, semen portland dengan kadar C3A dan alkali yang rendah umumnya menghasilkan campuran beton yang memperlihatkan hilangnya slump tinggi sejalan dengan waktu. Situasi ini telah berubah karena telah dilaporkan bahwa polyacrylate copolymer, sebuah generasi baru superplasticizer, tidak menyebabkan kehilangan slum yang berlebihan pada kebanyakan jenis semen portland maupun semen portland campuran.

  1. Agregat

Pada beton normal, tipe dan jumlah agregat memainkan peranan yang penting dalam stabilitas isi beton, namun hal tersebut memiliki efek yang terbatas pada kekuatan. Pada high strength conrete, agregat masih memainkan peranan yang penting dalam stabilitas isi, namun juga memainkan peranan yang penting dalam kekuatan dan kekakuan beton. Rasio faktor air semen yang digunakan pada campuran high strength conrete menyebabkan pemadatan pada daerah matrik dan daerah transisi antarmuka. Lebih lajut, beberapa tipe agregat seperti granit dan kwarsit dapat menyebabkan retak-retak mikro pada daerah transisi karena perbedaan susut suhu dan menghalangi pengembangan kekuatan mekanis tinggi. Sehingga, perhatian yang layak harus diambil pada pemilihan agregat-agregat untuk high strength concrete. Berdasarkan hasil-hasil dari studi eksperimental, Aitcin dan Mehta merekomendasikan bahwa tipe agregat yang keras dan kuat dengan modulus elastisitas tinggi dan koefisien ekspansi panas yang kecil lebih baik digunakan untuk memproduksi campuran very high strength concrete.

Dengan sebuah rasio faktor air semen yang telah ditentukan, kekuatan dari campuran beton dapat dinaikkan secara signifikan dengan secara sederhana mengurangi ukuran maksimum agregat kasar. Hal ini memiliki efek yang menguntungkan pada kekuatan daerah transisi antar muka. Menurut Aitcin, semakin tinggi kekuatan yang ingin dicapai, maka semakin kecil ukuran agregat kasarnya. Nilai kuat tekan sampai dengan 70 MPa dapat diproduksi dengan agregat kasar kualitas bagus dengan ukuran maksimum 20 mm – 25 mm. untuk menghasilkan nilai kuat tekan 100 MPa, maka ukuran maksimum agregat kasar yang harus digunakan adalah 14 mm – 20 mm. Beton-beton komersial dengan nilai kuat tekan lebih dari 125 MPa telah diproduksi menggunakan ukuran agregat maksimum 10 mm – 14 mm.

Memandang agregat halus, setiap bahan dengan ukuran distribusi partikelnya memenuhi spesifikasi standar ASTM C 38 layak digunakan untuk campuran high strength concrete. Aitcin merekomendasikan penggunaan agregat halus dengan modulus kehalusan yang tinggi (kira-kira 3,0) untuk beberapa alasan berikut ini :

    • Campuran high strength concrete sudah memiliki partikel-partikel kecil semen dan pozzolan dalam jumlah yang bayak, dengan demikian kehadiran partikel yang sangat kecil pada agregat yang halus tidak diperlukan untuk mengembangkan workability.

    • Penggunaan agregat yang lebih kasar akan memerlukan air yang lebih sedikit untuk memperoleh workability yang sama, dan

    • Selama proses pencampuran, partikel-partikel yang lebih ksar akan menghasilkan tegangan geseran yang lebih besar yang membantu untuk menghindari penggumpalan partikel-partikel semen.

  1. Admixture

Kebutuhan kekuatan yang tinggi dan ukuran agregat yang kecil berarti bahwa isi dari bahan-bahan pengikat pada campuran beton akan menjadi tinggi, umumnya di atas 400 kg/m3. Isi bahan-bahan pengikat sebesar 600 kg/m3 dan bahkan lebih tinggi telah diselidiki namun tidak diinginkan dengan alasan tingginya biaya dan susut suhu dan pengeringan yang berlebihan. Lebih jauh, dengan naiknya proporsi semen dalam beton, memang kekuatan yang tinggi tercapai, namun dengan susah kekuatan yang tinggi dicapai di atas sejumlah semen yang tertentu. Sebagaimana dijelaskan di atas, hal ini mungkin disebabkan karena ketidak-homogenitas-an yang sudah menjadi sifat pasta semen portland yang telah terhidrasi yang berisi luasan-luasan kristal kalsium hidroksida yang terdistribusi secara cak dalam fase utama. Luasan-luasan ini menyatakan daerah-daerah yang lemah yang rentan terhadap retak mikro karena tegangan tarik.

Metode Desain Campuran High Strength Concrete

Metode yang digunakan dalam merencanakan campuran high strength concrete ada beberapa cara, antara lain: (1) Minimum Voids Method, (2) Maximum Density Method, (3) Fineness Modulus Method, (4) British Mix Design (DOE) Method, (5) American Concrete Institute Method (ACI Method), dan (6) Indian Standard Method. Namun secara umum, desain campuran beton yang optimum dihasilkan dari pemilihan bahan-bahan local yang tersedia yang menyebabkan beton segar mampu untuk ditempatkan dan mampu untuk diselesaikan dan dapat memastikan pengembangan kekuatan dan sifat-sifat lain yang diinginkan dari beton yang telah mengeras sebagaimana dinyatakan oleh desainer. Beberapa konsep dasar yang perlu untuk dipahami untuk high strength concrete antara lain:

  • Agregat semestinya kuat dan durable. Agregat tidak perlu keras dan kekuatannya tinggi namun perlu kompatibel, dalam arti cukup kaku dan kuat, dengan pasta semen. Umumnya ukuran maksimum agregat kasar yang lebih kecil digunakan untuk kuat tekan beton yang lebih tinggi. Agregat halus yang digunakan bisa jadi lebih kasar daripada yang diperbolehkan oleh ASTM C 33 (modulus kehalusan butir lebih besar dari 3,2) karena tingginya agregat halus telah digantikan oleh bahan-bahan perekat (semen).

  • Campuran high strength concrete akan memiliki isi bahan-bahan perekat yang tinggi yang meningkatkan panas hidrasi dan kemungkinan susut yang tinggi mengawali potensi retak. Kebanyakan campuran berisi satu atau lebih bahan-bahan perekat tambahan seperti fly ash (tipe C atau F), ground granulated blast furnace slag, silica fume, metakaolin atau bahan-bahan pozolanik alami.

  • Campuran high strength concrete umumnya membutuhkan rasio factor air semen yang rendah, dimana rasio factor air semen berada pada rentangan 0,23 sampai dengan 0,35. Faktor air semen yang rendah ini hanya dapat dicapai dengan admixture (superplasticizer) dalam jumlah dan dosis yang besar, menyesuaikan antara tipe F atau G berdasarkan ASTM C 494. Admixture pengurang air tipe A juga dapat digunakan sebagai kombinasinya.

  • Isi total dari bahan-bahan perekat umumnya sekitar 700 lb/yd3 (415 kg/m3) namun tidak boleh lebih dari 1100 lb/yd3 (650 kg/m3).

  • Pemakaian air entrainment pada high strength concrete akan menurunkan potensial kekuatan secara besar.

Perhatian yang lebih dan evaluasi akan diperlukan bila spesifikasi pekerjaan mengatur batas-batas sifat beton seperti rangkak, susut dan modulus elastisitas. Ahli teknik mungkin mengatur batas-batas sifat tersebut untuk desain strukturnya. Penelitian-penelitian saat ini mungkin tidak memberikan panduan yang diperlukan tentang hubungan empiris dari sifat-sifat tersebut dari pengujian-pengujian trandisional dan beberapa dari pengujian tersebut sangat khusus dan mahal untuk dilakukan bagi evaluasi campuran. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teoretis, rangkak dan susut yang lebih kecil, modulus elastisitas yang lebih tinggi dapat dicapai dengan agregat yang lebih besar dan isi pasta yang lebih sedikit pada beton. Menggunakan ukuran agregat terbesar yang dapat dicapai dan agregat halus yang digradasi medium sampai dengan kasar dapat mencapai hal tersebut. Ukuran agregat yang lebih kecil misalkan 3/8 inci ( 9,5 mm) dapat digunakan untuk menghasilkan kuat tekan yang sangat tinggi namun membutuhkan sifat-sifat seperti rangkak, susut dan modulus elastisitas untuk dikorbankan. Apabila kesulitan ditemui dalam mencapai kuat tekan yang tinggi, hanya dengan menambahkan bahan-bahan perekat tidak akan menaikkan kekuatan. Faktor-faktor seperti bahan-bahan pengganggu dalam agregat, pelapis-pelapis agregat, agregat kasar, muka-muka pecah, tampang dan tekstur, dan batasan-batasan pengujian bisa jadi menghalangi kuat tekan tinggi dapat tercapai. Proporsi campuran beton akhir ditentukan dengan batch coba-coba, entah itu di laboratorium ataupun dengan batch-batch produksi lapangan skala kecil. Produksi, transportasi, penempatan dan finishing high strength concrete bisa jadi berbeda secara signifikan dari prosedur-prosedur yang digunakan pada beton konvensional. Untuk proyek-proyek yang kritis, sangat direkomendasikan penuangan coba-coba dan evaluasi dilakukan dan dimasukan sebagai item yang harus dibayarkan pada kontrak. Pertemuan pra-penawaran dan pra-konstruksi sangatlah penting untuk dilakukan untuk memastikan kesuksesan proyek yang menggunakan high strength concrete. Selama konstruksi, pengukuran ekstra harus dilakukan untuk melindungi terhadap susut plastik dan retak panas pada bagian-bagian yang lebih tipis. High strength concrete mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama sebelum perancah dibongkar.

Silinder-silinder uji high strength concrete sebaiknya dicetak dengan hati-hati, dirawat, ditutupi dan diuji. Waktu setting high strength concrete yang lebih lambat mungkin juga terjadi.

Contoh Mix Design – High Strength Concrete.

Mix design high strength concrete dengan kuat tekan karakteristik rencana pada umur 28 hari 60 MPa. Untuk contoh desain yang lain, dapat dilihat di sini

(a) DESIGN STIPULATION:-
Target strength = 60Mpa
Max size of aggregate used = 12.5 mm
Specific gravity of cement = 3.15
Specific gravity of fine aggregate (F.A) = 2.6
Specific gravity of Coarse aggregate (C.A) = 2.64
Dry Rodded Bulk Density of fine aggregate = 1726 Kg/m3
Dry Rodded Bulk Density of coarse aggregate = 1638 Kg/m3

Step-1
Calculation for weight of Coarse Aggregate:
From ACI 211.4R Table 4.3.3 Fractional volume of oven dry Rodded C.A for 12.5mm size aggregate is 0.68m3
Weight of C.A = 0.68*1638 = 1108.13 Kg/m3

Step-2
Calculation for Quantity of Water:
From ACI 211.4R Table 4.3.4
Assuming Slump as 50 to 75mm and for C.A size 12.5 mm the Mixing water = 148 ml
Void content of FA for this mixing water = 35%
Void content of FA (V)
V = {1-(Dry Rodded unit wt / specific gravity of FA*1000)}*100
= [1-(1726/2.6*1000)]*100
= 34.62%

Adjustment in mixing water = (V-35)* 4.55
= (34.62 – 35)*4.55
= -1.725 ml
Total water required = 148 + (-1.725) = 146.28 ml
Step-3
Calculation for weight of cement
From ACI 211.4R Table 4.3.5(b)
Take W / C ratio = 0.29
Weight of cement = 146.28 / 0.29 = 504.21 kg/m3

Step-4
Calculation for weight of Fine Aggregate:

Cement = 504.21 / 3.15*1000= 0.1616
Water = 146.28 / 1*1000= 0.1462
CA = 1108.13 / 3*1000= 0.3690
Entrapped Air = 2 / 100= 0.020
Total = 0.7376m3
Volume of Fine Aggregate= 1-0.7376
Weight of Fine Aggregate= 0.2624*2.6*1000= 683.24 kg/m3

Step-5
Super plasticizer:
For 0.8% = (0.8 / 100)*583.53 = 4.668 ml

Step-6
Correction for water:
Weight of water (For 0.8%) =146.28 – 4.668 =141.61 kg/m3

Requirement of materials per Cubic meter
Cement = 504.21 Kg/m3
Fine Aggregate = 683.24 Kg/m3
Coarse Aggregate = 1108.13 Kg/m3
Water = 141.61 Kg/ m3
Super plasticizers = 4.6681 / m3

So the final ratio becomes
Cement : Fine agg (kg/m3) : Coarse agg (kg/m3) : Water (l/m3): Superplasticizer (l/m3)

1: 1.35 :2.19 :0.29 :0.8

Daftar Pustaka

  1. Anonim, ( )., CIP 33 – High Strength Concrete, National Ready Mixed Concrete Association., -

  2. Kosmatka, Steven H., Kerkhoff, Beatrix, dan Panarese, William C., 2003., Design and Control of Concrete Mixture.,Portland Cement Association, Illionis.

  3. Mehtar, P. Kumar, dan Monteiro, Paulo J.M., 2006., Concrete – Microstructure, Properties and Materials, 3rd edition., McGraw-Hill, New York.

  4. Civil Engineering Portal, http://www.engineeringcivil.com/, portal khusus untuk teknik sipil

nah, demikianlah sekelumit tentang ilmu yang aku dapatkan dan ingin aku bagikan. Ucapan terima kasih aku ucapkan kepada rekan Andi Aprizon ST., atas bantuannya untuk mempersiapkan bahan-bahannya. Sebenarnya ada gambar-gambarnya, tapi karena suatu hal, ya akhirnya gambar-gambarnya aku batalkan untuk dimasukkan.

tunggu naskah berikutnya… OK??!!

About these ads

39 responses to “Beton Mutu Tinggi

  1. Interesting juga Kang, omong-omong bisa gak dikasih ilustrasi aplikasi dilapangannya (omong-omong kalo betonnya site mix piye)? Apalagi kalo lapangannya itu jauh dari Bacthing Plant…tentu susah bikin settingan Slumpnya.

    • pramudiyanto

      apa yang susah, itu harus dihadapi oleh seorang engineer. Lha kalau semuanya mudah, khan ga’ ada lagi engineering namanya. wekekekekekekek… aku pernah dikasih ulasan tentang pertanyaanmu itu, tapi aku lupa bagaimananya… nanti coba aku cari lagi referensinya.

  2. Andi Aprizon ST M Eng

    kereeeeeen pram lo dah punya website sendiri,,aku senin 3 nov mau ujian tesis doakan sukses. kontek kontek jangan lupa…. he he

  3. suhermansyah

    hai mas pram masih inget sama saya nggak, kalu nggak ya udah. Nggak sengaja aku cari info tentang mix design beton mutu tinggi…. eh ketemu web nya gus pram. Gimana tesisnya udah nyampe mana ?

    • pramudiyanto

      siapa ya ini??? koq agak kenal dengan kata-katanya… hehehehehehe… ya tentu sajalah masih kenal pak herman… alhamdulillah, alat-alatnya sudah lengkap sekarang, aku sudah siap untuk mulai nguji… agak lama memang kemarin harus nunggu alat dari swedia dan cina. Beberapa hari yang lalu sudah ketemu dengan pembimbing dan mereka memahami keterlambatanku. do’anya saja semoga bisa mengejar ketinggalan kalian… salam buat teman-teman yang lain.

  4. pramudiyanto

    I’ve been put the link on my post, I’m sorry for late to reply.

  5. pramudiyanto

    I’ve been put a back link on the original site. Please check.

  6. pramudiyanto

    I’ve been put a trackback to the original site

  7. niken pamikatsih

    Ass, pak…saya itu kalo diterangkan terkadang belum paham…pak ada video tentang beton prategang pracetak? oiya pak…sekalian pak tentang precast, itu kan metode banyak yah..nah seperti metode dengan selling,spircon,las..nah pak itu mana yang lebih baik…oiya juga pak saya pernah membaca lagi tentang ada sebuah bakteri yang di situ ternyata bisa merusak kualitas beton….dan ada juga bakteri yang justru bisa menjaga kekuatan beton…tapi sayangnya saya lupa pak…kalo itu diteliti gmn yah??? oiya lagi pak…tentang dinding yang terkena rayap itu perbaikannya gmn yah? karena ternyata ada jenis bakteri yang sifatnya seperti rayap sehingga menyebabkan dinding sering terlihat cacat….gmn itu pak?

    • saudari niken yang baik,
      saya aka mencoba untuk mengakomodasikan beberapa (tidak semuanya) dari pertanyaan-pertanyaan yang saudari berikan.
      1. bila saudari menginginkan untuk dapat belajar sendiri tentang beton prategang dan pracetak,kebetulan beberapa waktu yang lalu saya temukan di YouTube ada videonya. Silakan saudari mencari di YouTube dengan kata kunci “prestress concrete” atau “precast concrete”. Insya Allah akan ada yang saudari temukan.
      2. untuk berbagai jenis metode yang digunakan di precast (bukan prestressed) saya sendiri belum mengetahui seluruhnya, namun untuk prestressing system-nya sendiri sebenarnya terbagi menjadi dua bagian utama: yaitu pre-tensioning system (sistem pra-tarik) dan post-tensioning system (sistem pasca-tarik). Kalau tentang mana yang lebih baik, jawaban yang bisa saya berikan adalah relatif. Satu sistem tidak pasti lebih baik dari yang lain, satu sistem tidak bisa digunakan sebagai pengganti yang lain. Sistem tersebut digunakan sesuai dengan kebutuhan saja.
      3. untuk bakteri yang mampu merusak beton, saya pernah membacanya sekilas, namun karena sudah agak lama jadi saya lupa2 ingat tentang hal tersebut. Sepertinya memang ada yang demikian, namun saya tidak berani berkomentar lebih lanjut. Coba nanti saya lihat kembali yang pernah saya baca tersebut. Bila memang saudari tertarik untuk menelitinya lebih lanjut, itu merupakan subjek yang bagus, dan sepertinya itu akan jadi bahan penelitian rame-rame artinya dapat diakomodasikan oleh beberapa orang dan beberapa departemen, jadi bukan hanya dari sipil saja.
      4. tentang dinding yang terkena rayap. Kita perlu tahu dulu dinding apa yang terkena rayap? apakah dinding sekat partikel atau dinding batubata? atau dinding model yang lain? jika tidak ada penjelasannya juga susah untuk memberikan solusi.

      tampaknya saudari Niken tertarik dengan faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan struktur yang ditinjau dari sisi ilmu biologinya. Silakan saudari banyak-banyak membaca literatur yang berhubungan dengan hal tersebut. Siapa tahu nanti ada topik yang menarik yang dapat saudari ambil untuk penelitian. Saya tunggu hasilnya.

  8. Pak gmana mengecek secara visual dlapangan,jika mutu beton yg dgunakan tidak memenuhi kuat tekannya dalam hal ini mutu 30 Mpa.(cek secara kasat mata)…Tlong jwabanx yg riil…

    • saudara Jefry yang baik,
      sejauh yang saya ketahui, pengujian untuk mengetahui kuat tekan beton tidaklah dapat dilakukan “hanya” dengan kasat mata. Harus melalui pengujian yang reliabel, misalnya Hammer Test, atau dengan metode pengujian di laboratorium dengan mengambil contoh sampel yang ada di lapangan dengan cara di bor.
      Demikian jawaban dari saya.

  9. Mas Pram, salam kenal..saya engineer dengan pengalaman lebih dari 9 tahun. saya ingin sedikit minta masukan, semoga tidak keberatan.

    begini mas, saya ada case, ngecor girder kira2 tebal 40cm panjang 12m dan tinggi 3meter, begitu bekesting dibuka, ditemukan banyak retak vertikal yang menyebar per jarak 2 meteran di dua sisi.

    design f’c kami adalah 42Mpa, karena secara mix design dengan menggunakan conventional mix tidak bisa tercapai, maka kami menambahkan zat aditif, jika dilakukan trial f’c tersebut bisa dicapai, tetapi begitu diaplikasikan di lapangan hasilnya seperti itu…kita ndak lakukan uji ultrasonik untuk mengetahui sebaran retakan secara detail, tetapi kami mengambil methode core drill untuk menggambil beberapa sampel yang pengen kami uji, dan hasilnya adalah f’c tidak semua diatas 40Mpa..ini membuat kami kawatir, maka pilihan kami adalah melakukan demolishion concrete yang sudah jadi tersebut ntuk kita cor ulang…..pilihan yang sangat mahal menurut saya.

    dalam case seperti ini apakah:
    1. Kita masih berani untuk melakukan perbaikan dengan metode injecksi saja?
    2. Bagiamana melakukan metode pengecoran yang baik, untuk mencapi design f’c 42Mpa yang notabene sulit dicapai untuk conventionla mix tanpa aditif.

    salam
    Hananto

    • mas Hananto yang baik,
      salam kenal balik dari kota Yogyakarta

      izinkan saya mencoba untuk memberi sedikit saran, kalaupun ada salah2nya mohon dimaafkan sebelumnya. Tentang kasus yang mas hananto alami, perlu saya perjelas terlebih dahulu apakah dengan dimensi 40cm panjang 12m dan tinggi 3 m tersebut dicor seluruhnya secara langsung atau bertahap? kondisi di lapangan bagaimana?
      melihat dari penjelasan yang mas hananto berikan, saya mengambil kesimpulan sementara, sebagai berikut :
      - ada kesalahan pada proses pengecoran betonnya
      - ada kesalahan pada proses pemadatannya
      - ada kesalahan pada proses perawatannya
      retak umumnya terjadi karena susut yang terlalu cepat dari beton dan berdasarkan keterangan mas hananto jika f’c yang diperoleh cenderung tidak menunjukkan hasil yang signifikan, maka ada kemungkinan hal tersebut disebabkan karena susut tersebut.
      Pilihan demolish concrete memang pilihan yang mahal, mengingat volumenya yang sangat besar dan menurut saya pilihan itu juga tidaklah ekonomis. Menanggapi pertanyaan mas Hananto
      1. menurut saya (berdasarkan keterangan di atas) perbaikan dengan injeksi saja tidaklah memperbaiki keadaan, sebab retak sudah terjadi sebelum bekisting dibuka. Perlu diusahakan jenis perbaikan lain untuk mengatasi hal ini, sebagai contoh dengan menggunakan tambahan perkuatan dengan FRP atau dengan eksternal prestressing.
      2. sejauh pengalaman saya, metode pengecoran yang baik dilakukan dengan cara step by step, artinya dilakukan seperti halnya kita memadatkan beton di kerucut terpancung saat kita akan mencari nilai slump. Kebetulan saya tidak memiliki gambarnya yang lengkap, namun step lengkapnya dapat mas Hananto lihat di alamat ini. Hal yang penting yang kadang menjadi disederhanakan adalah pada saat pemadatan (konsolidasi beton) dan perawatan. Kedua hal ini jadi poin penting untuk mendapatkan beton yang durable. Memang pembuatan beton dengan mutu tinggi tanpa adanya aditif sangatlah susah untuk dicapai di lapangan.
      3. Mungkin tidak banyak membantu, tetapi saya pernah baca manual untuk perbaikan elemen jembatan beton yang di publish oleh Alberta Infrastructure and Transportation, alamatnya ada di sini.

      Demikian jawaban dari saya. Mohon maaf bila jawaban yang saya berikan kurang memuaskan. Saya terbuka untuk diskusi. Terima kasih.

      salam,
      Pramudiyanto

  10. Selamat petang. Salam kenal.
    Saya seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi negeri di Malang. Saya tertarik dengan tulisan yang Anda buat dan topiknya. Namun, saya masih agak bingung mengenai zat aditif yang berguna untuk menambah kekuatan beton. Apa saja jenis zat aditif baik kimia maupun mineral (alami) yang dapat menambah kuat tekan beton? Selanjutnya, saya juga ingin menanyakan mengenai cara penambahan superplasticizer. Bagaimana cara menghitung kadar superplasticizer ketika akan ditambahkan dalam campuran beton?
    Terima kasih.

  11. saya sangat berterimakasih jika ada bahan2 yg terupdate bisa dikirim ke email saya. thanks

  12. salam kenal pak pram.. saya mahasiswa teknik sipil universitas lampung.. saat ini saya sedang menjalani penelitian beton mutu tinggi dengan metode ACI 211.4R tanpa menggunakan fly ash.

    kemarin waktu saya membuka benda uji saya dari cetakan kok.. banyak rongga2 udara atau keropos, kira2 kenapa ya pak pram.. apakah pemadatannya kurang atau perhitungan saya yang salah..

    butuh berapa pemadatan itu dilakukan dan teknisnya bagaimana pak pram..

    mohon bantuannya
    terima kasih sebelumnya

    • pramudiyanto

      saudara maekal yang baik, saya akan mencoba untuk mengakomodasikan pertanyaan saudara semoga bisa membantu.

      rongga-rongga udara (keropos) dalam bahasa teknik sipilnya adalah honey comb atau sarang tawon. Hal tersebut bisa terjadi karena banyak hal, salah satunya adalah pemadatan yang kurang sempurna. Dalam penelitian saudara yang menggunakan standar ACI 211.4R, langkah-langkah yang semestinya saudara ikuti untuk mendesain high strength concrete semestinya juga sudah saudara lakukan.
      ada beberapa hal yang perlu saya garis bawahi dalam mendesain beton berdasarkan ACI 211.4R (hal-hal yang perlu diperhatikan), antara lain :
      pemilihan bahan (agregat halus, kasar, semen dan bahan tambah). pemilihan bahan tidak hanya mempengaruhi mutu campuran, workability, kelecakan dan lain sebagainya, namun pemilihan bahan merupakan suatu tindakan mendasar dalam memperoleh campuran yang kita inginkan. Ketelitian dalam melakukan pengujian awal bahan-bahan yang digunakan akan sangat membantu dalam memperoleh campuran yang diinginkan.
      workability. slump yang digunakan untuk aplikasi high strength concrete seharusnya seminimal mungkin. umumnya antara 2-4 inci sudah mencukupi untuk aplikasi-aplikasi umum. Namun untuk memperoleh nilai slump yang kecil ini umumnya harus diakomodasi dengan nilai faktor air semen yang kecil. sedangkan faktor air semen yang kecil akan menyebabkan proses pencampuran menjadi tidak sempurna dan beton menjadi sulit untuk dikerjakan. Oleh karena itu diperlukan bahan-bahan tambah (admixture).
      kedua hal tersebut saya kira cukup untuk menjawab mengapa benda uji yang saudara buat menjadi keropos, selain proses pemadatan yang saya sebut tadi kurang sempurna. Sebab, semakin kecil faktor air semennya, akan semakin susah beton untuk dikerjakan dan semakin susah juga untuk dituang dan dipadatkan.

      demikian dari saya, mudah-mudahan cukup membantu

  13. Artikelnya bagus Pak. Saya ingin tanya, sekarang ini kan ada UHPC atau Ultra High Performance Concrete yang nilai Fc’ bisa sampai 120 MPa. Menurut Bapak apakah beton seperti itu bisa diaplikasikan secara umum? Kalau dilihat dari nilai Fc’ yang besar tentu saja betonnya memiliki mutu yang bagus. Tapi, tidak semua orang bisa membuat beton dengan mutu seperti itu. Terimakasih atas penjelasannya

    • yth mas Putu Sukma Kurniawan,
      terima kasih sudah menyimak artikel sederhana saya. Saya tidak menyangka ternyata banyak yang menengok tulisan saya tentang beton mutu tinggi tersebut. Menanggapi pertanyaan mas Putu tentang UHPC, akan saya coba jawab. Untuk pertanyaan apakah bisa diaplikasikan secara umum/tidak, jawaban saya: BISA, selama aplikasinya untuk konstruksi tertentu (misalnya dam, jembatan bentang panjang, bendungan, dsb) bukan untuk konstruksi sederhana (rumah tinggal 1 atau 2 lantai). Namun untuk masalah pengerjaannya bisa dikerjakan oleh masyarakat umum/tidak, jawaban saya: BELUM BISA. Mengapa saya jawab demikian?
      Untuk aplikasi di lapangan, saya lihat untuk special construction (dalam bahasa saya sendiri) ada kebutuhan untuk mendapatkan nilai kekakuan dan kekuatan yang tinggi (misalnya untuk bangunan jembatan bentang panjang, gelanggang olahraga, stadion, dsb) sehingga hal tersebut sangat mungkin untuk diaplikasikan.
      Tetapi mengapa masyarakat umum tidak (baca: belum mungkin) bisa untuk menggunakan hal tersebut? Hal tersebut disebabkan karena untuk UHPC (ataupun HSC) memerlukan pengawasan yang ekstra ketat, mulai dari pemilihan bahan, cara pencampuran (mixing) hingga ke masalah perawatan pasca pengecoran. Nah, untuk hal-hal yang ribet semacam ini, masyarakat kita kurang sabar dan tidak telaten (dalam bahasa jawa) untuk mengerjakannya. Hasilnya adalah bahkan untuk beton normal saja kadang-kadang untuk satu daerah dengan daerah yang lain, dengan campuran yang sama akan menghasilkan mutu yang sangat bervariasi sekali. Bahkan pun, dalam pengamatan saya selama ini, beton yang dihasilkan dari batching plant juga sering berbeda, meskipun sudah dilakukan pengawasan yang boleh dibilang ketat.
      Demikian penjelasan singkat saya.

      • Iya, Pak. Saya tertarik dengan UHPC ini. Sekarang ini saya masih mahasiswa dan juga mulai mengenal teknologi ini. Seperti yang Bapak bilang bahwa teknologi ini memang memerlukan pengawasan yang ketat aga didapatkan mutu UHPC yang berkualitas. Begini, Pak, saya ingin bertanya mengenai beton khususnya beton bertulang. Beton bertulang itu tulangannya kan dipasang di daerah tarik, apakah tulangan tersebut bisa juga dipasang di daerah tekan? Menurut buku yang saya baca, tulangan tersebut dipasang di daerah tarik. Mohon penjelasannya, Pak. Terimakasih

      • Iya, Pak. Saya tertarik dengan UHPC ini. Sekarang ini saya masih mahasiswa dan juga mulai mengenal teknologi ini. Seperti yang Bapak bilang bahwa teknologi ini memang memerlukan pengawasan yang ketat agar didapatkan mutu UHPC yang berkualitas. Begini, Pak, saya ingin bertanya mengenai beton khususnya beton bertulang. Beton bertulang itu tulangannya kan dipasang di daerah tarik, apakah tulangan tersebut bisa juga dipasang di daerah tekan? Menurut buku yang saya baca, tulangan tersebut dipasang di daerah tarik. Mohon penjelasannya, Pak. Terimakasih

      • pramudiyanto

        yth mas Putu Sukma Kurniawan
        tulangan yang dipasang pada konstruksi beton bertulang memang dimaksudkan untuk mengakomodasikan kelemahan beton dalam hal tarik, sehingga baja tulangan dipasang di daerah tarik. Hal ini terutama terjadi di tengah bentangan, bagian atas mengalami tekan, bagian bawah mengalami tarik, dengan demikian tulangannya di pasang di bawah. Namun di tumpuan, hal ini jadi terbalik, bagian atas mengalami tarik dan bagian bawah mengalami tekan, sehingga tulangannya ada di bagian atas. Sehingga muncullah istilah beton bertulang penulangan tunggal (singly reinforced concrete)(Umumnya, tulangan dari tengah bentangan tadi diteruskan hingga ke tumpuan di kiri-kanannya, demikian pula dengan tulangan di tumpuan, diteruskan hingga ke tengah bentangan hingga ke tumpuan yang satunya lagi. Maka jadilah ada tulangan yang mengisi daerah tekan.
        Setelah diselidiki dengan proses yang panjang, ternyata tulangan di daerah tekan ini juga mengkontribusi terhadap kekuatan elemen struktur (balok, kolom, plat, dsb), sehingga muncullah istilah elemen struktur beton bertulang penulangan rangkap (doubly reinforced concrete). Nah, pada elemen struktur beton berpenulangan rangkap inilah kemudian muncul dua buah kondisi: kondisi 1 dimana tulangan tarik sudah luluh namun tulangan tekan belum luluh, dan kondisi 2 dimana tulangan tarik belum luluh namun tulangan tekan sudah luluh (saya lupa mana yang kondisi 1 dan mana yang kondisi 2, mungkin terbalik-balik).
        sebenarnya, di buku beton bertulang pasti akan membahas tentang hal ini, misalnya di buku karangannya Istimawan Dipohusodo, Nawy, Chu Kia Wang, Jack McCormack, dsb., dengan kalimatnya sendiri-sendiri, tapi intinya membahas hal yang sama.
        Demikian penjelasan singkat dari saya.

  14. ASLKM WR. WB
    Salam kenal pak Pram.
    sy s’orng mhasiswa S-1 UNSYIAH (Universitas Syiah Kuala Banda Aceh)
    6 bulan yg lalu, sy bserta kwn2 mneliti ttg punching shear pd flat slab dmn kami mnggunakan HSC dgn mutu 60 MPa, nah pada cmpurn kmi mnggunakan silicafume + SP (superplaticizer). Sblum kami mlakukan pmbuatan flat slab kami terlbh dahulu membuat trial-mix brupa slinder D=15cm H=30cm, stlh pngecorn terjadi kami mlkukan curing slma seminggu….
    1 hri kemudian kami lakukan uji kuat tekan ternyata kami hanya mndapatkn 40-50 mpa…..
    scr visual kami mlihat uji kuat tkan pada silinder terjadi@ susut tdk terjadi retak sempurna n agregt yg kami gunakan (split) tdk pcah / tdk terblh, ini berarti split dgn mortal tdk kerja sma untk mnrima beban,
    bgaimn mnurut pak Pram……………., thnks

    • assalamu’alaikum wr. wb.

      saudara(i) mahasiswa dari UNSYIAH Banda Aceh. Terima kasih telah mengirimkan pertanyaan yang begitu menarik untuk ditanggapi. Meskipun pengetahuan saya tentang beton mutu tinggi masih sedemikian dangkal, sehingga mendorong saya untuk tetap mempelajari beton terus menerus, saya mencoba menanggapi apa yang menjadi pertanyaan saudara(i).
      Saya ada artikel tentang HSC yang didesain menggunakan SF dan SP, dan sudah dikerjakan oleh rekan-rekan dari UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Meskipun penjelasannya tidak dari saya langsung, mudah-mudahan artikel ini cukup membantu saudara(i) .
      File-nya ada di sini : artikel beton mutu tinggi
      Mohon maaf, penjelasannya tidak dari saya langsung, bila masih ada yang perlu didiskusikan, silaken menghubungi saya lewat e-mail (pramudiyanto@gmail.com) maupun lewat blog ini.

      wassalamu’alaikum wr. wb.

  15. mas, saya punya material batu split yang kandungannya seperti yang terdapat dalam fly ash ( beton mutu tinggi). Beberapa buyer kami dari singapura berani menawar cukup tinggi untuk material yang kami punya. Kami jadi bertanya kesana kemari, perlu diketahui, kami bukan dari teknik sipil dan kalau memang benar barang itu selama ini yang dicari oleh para kontraktor dan pabrik beton pre cast. so… what next.

    bisa minta waktu untuk ngobrol? atau via e-mail? aku tinggal di Permata Puri 1 – Depok.
    thanks

    Suharto Nawa

  16. salam kenal pak ..
    sy sedang ingin mengetahui lebih dalam tentang pilar langsing prategang !!
    apa bpk punya info yg bisa di share ?
    atau adakah rekomendasi buku maupun webst yg bagus terkait hal tsb ?
    terima kasih pak ..

    • saudara (atau saudari?) lala yang baik, sebenarnya untuk materi yang dicari dapat ditemukan lewat Google ataupun mesin pencari yang lain dengan kata kuncinya “slender prestressed column”. Ataupun bila memang memungkinkan, silaken baca-baca buku yang berhubungan dengan beton prategangan, biasanya dibahas juga di situ, meskipun tidak secara lengkap. Misalnya buku-bukunya Krishna Raju, Nawy, ataupun pengarang-pengarang yang lain.
      kalau ada kesempatan online lagi, silaken menjelajah ke Indian Institute of Technology masuk ke bagian Civil Engineering. Materi2 mereka bagus-bagus, cukup informatif dan kalau tidak salah (mudah2an tidak ya…) materi mereka dapat diunduh. silaken menghubungi melalui media ini ataupun lewat e-mail, saya terbuka untuk berdiskusi.

  17. Pingback: Faktor yang Mempengaruhi Kuat Tekan Beton | Catatan Kurniawan

  18. Assalamualaikum Wr, Wb.
    salam kenal
    sekarang ini saya sedang mencari judul skripsi teknik sipil, rencana saya mau mengadakan pengujian, jika ada materi yang mau atau belum di uji masalah beton, boleh lah saya yang coba, tentu dengan bimbingan bapak,
    trimakasih
    wasalam
    Jenal Za

    • pramudiyanto

      materi untuk skripsi sebenarnya ada banyak sekali (kalau kita mau jeli untuk mencari dan mendalami masalah yang ada). Yang ingin saya tekankan adalah saat kita ingin mengambil satu subjek untuk tugas akhir (Skripsi) hendaknya kita kembalikan kepada diri kita masing-masing supaya kita saat menyelesaikan tugas akhir/skripsi tersebut tidak merasa ada beban.
      Saya terbuka untuk berdiskusi tentang materi tugas akhir/skripsi, tentu saja yang sesuai dengan bidang yang saya dalami.

  19. Edi Purnomo

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Saya merupakan penggemar berat Gus Pram, bahkan saya bangga pernah ikut lomba bersama di Brawijaya Malang. Berkat Gus Pram kini Teknik Sipil UNY semakin maju dan sejajar dengan kampus2 elit lainnya. Gus Pram gmn kbrnya..slm untuk dosen dan temen2 di Jogja, slm buat mbak Hetty juga.
    Saya tertarik dengan tulisan tentang beton mutu tinggi, karena saya dulu juga pernah jadi kuli di precast concrete. Dengan membaca tulisan Gus Pram mengingatkanku pada masa laluku itu. Tapi, pengalaman tersebut sangat berharga untuk menambah wawasan keilmuan teknologi beton yang semakin berkembang. Pertanyaan saya, kpn kita bisa ketemu dan ngobrol2 sprti dulu Gus Pram? Terimakasih
    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    • pramudiyanto

      wa’alaikum salam wr. wb.
      mas edi bagaimana kabarnya? keluarga sehat-sehat sajakah? alhamdulillah bisa berkomunikasi lagi. saya tunggu kabar-kabarnya di e-mail saya. terima kasih sudah mampir.

  20. Edi Purnomo

    Alhamdulillah Pak Pram kita semua sehat2, saya tunggu artikel2 selanjutnya, sangat bermanfaat bagi kita semua, slm tuk keluarga & jalin komunikasi tanpa batas.

  21. giovanni genial

    selamat siang pak, saya kmrn membaca artikel ini pak. Saya seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah univ di surabaya. Begini pak, saya sedang tertarik dengan uhsc ultra high strength concrete. Dimana kekuatan betobn mecapai 150 hingga 200 MPa. Kalau yg lalu2 mahasiswa dikampus saya bisa membuat sampel beton hingga 100 MPa.yang mau saya tanyakan, bagaimana sih perkembangan beton di indonesia ini? Kemudian apakah memungkinkan uhsc diterapkan di indonesia? Dan sejauh mana sih indonesia ini mengembangkan betonnya? (hingga mutu brapa dan untuk applikasi apa) terimakasih.

    • pramudiyanto

      saudara mahasiswa yang baik,
      salam kenal dari Yogyakarta

      Ultra high strength concrete (ultra high performance concrete) merupakan suatu bentuk teknologi beton yang relatif masih baru. Dimana seperti yang saudara sebutkan, ada kecenderungan untuk memperoleh mutu beton hingga mencapai nilai yang cukup tinggi. Beton ini menawarkan aplikasi yang cukup luas, sehingga kemanfaatannya pun akan luas pula.
      Saya ingin menjawab pertanyaan yang saudara ajukan, mudah2an bisa memberikan informasi.
      “bagaimana sih perkembangan beton di indonesia ini?”
      jawab : Mengenai perkembangan beton di Indonesia menurut saya cukup signifikan. Terlihat dari beberapa penelitian yang mengarah pada pemakaian beton yang lebih baik, misalnya pada SCC (self compacting concrete), FRC (fibre reinforced concrete), dan lain sebagainya.
      “apakah memungkinkan uhsc diterapkan di indonesia?”
      jawab : mengapa tidak? pertanyaan yang semestinya diajukan adalah mau/tidak? :)
      “sejauh mana sih indonesia ini mengembangkan betonnya? (hingga mutu brapa dan untuk applikasi apa)”
      jawab : sebagian pertanyaannya sudah saya jawab di atas, mutu yang mampu dikerjakan saat ini kalau tidak salah informasi masih berkisar antara 60 – 70 MPa. Aplikasinya cukup banyak, salah satu yang terlihat adalah Jembatan Suramadu.

      demikian balasan dari saya, mudah2an bisa membantu.
      salam

  22. Assalamu’alaikum pak…
    saya seorang fresh graduated yg sekarang baru menduduki posisi sebagai Quality Engineer. Di proyek jalan yg saya tangani beton yg digunakan ialah K-350 pak, secara pelaksanaan sudah tepat, tapi selang 3-7 hari jalan beton sudah mengalami retak rambut bahkan ada yg patah pada salah satu segmen. setelah saya coba menghancurkan patahan beton itu, tekstur beton itu sangat licin ditangan , ternyata batching plant tempat kami memesan beton menggunakan pasir putih (pasir gunung). apakah ada pengaruhnya dan hubungannya terhadap keretakan yg terjadi pak?
    terima kasih atas jawabannya…

    • saudara fresh graduate yang baik,
      terima kasih atas pertanyaan yang diajukan. Permasalahan dengan kualitas selalu berhubungan dengan hal-hal berikut ini: (1) kualitas bahan dan pengendalian, (2) kualitas sumber daya manusia, (3) proses pengerjaan di lapangan. ketiga hal tersebut saya istilahkan sebagai 3-in-1 dalam kualitas pekerjaan. Saya akan melihat permasalahan saudara dari sisi no 1 saja, yakni kualitas bahan dan pengendaliannya.
      Seperti yang telah diketahui, bahwa beton dengan bahan dasar agregat, semen dan air, harus melalui tahapan-tahapan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu sebelum siap digunakan sebagai campuran beton. Ataupun tidak dilakukan pengujian, selayaknya sudah ada catatan tentang kualitas beton yang dibuat dengan bahan-bahan tersebut. Melihat kasus yang saudara alami, saya hanya dapat berasumsi bahwa belum dilakukan pengujian kualitas bahan dan pengujian kualitas beton yang dihasilkan dengan bahan-bahan yang saudara sebutkan tadi.
      Beberapa artikel yang saya baca menyebutkan tidak terjadi masalah dengan bahan-bahan lokal yang digunakan sebagai campuran beton, asalkan sudah dilakukan pengujian laboratorium dulu. Pertanyaan saya adalah apakah sudah pernah ada uji labolatorium tentang bahan-bahan tersebut? Saya kembali berasumsi, bahwa keretakan yang terjadi pada beton setelah dicor, akibat adanya campuran yang tidak merata dikeseluruhan bahannya, atau karena terjadi penguapan air yang terlalu cepat pada campurannya. Dari asumsi tersebut (yang saya belum tentu benar), saya hanya bisa menyarankan untuk menguji terlebih dahulu kualitas bahan-bahan yang akan digunakan. jangan hanya karena mengejar tenggat waktu, tetapi kualitas pekerjaan jadi korban. Waktu memang kita prioritaskan, tetapi yang lebih penting adalah kualitas pekerjaannya.

      demikian jawaban saya, mudah2an bisa membantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s