a small note on my birthday

aku sungguh tidak menyangka bahwa aku akan sampai pada hari ini, 29 tahun telah berselang, dimana 29 tahun yang lalu ibu melahirkan aku, dan sekarang aku telah menjadi seorang ayah, aku telah menjadi orang tua. Betapa 29 tahun tidak terasa telah berjalan sedemikian cepat, sepertinya baru kemarin saja aku bermain bersama dengan teman-temanku, melewati sawah, ladang, memancing ikan di sungai, bermain layang-layang, perang-perangan dan serangkaian permainan yang menyenangkan hari-hariku. Pagi ini aku terbangun di samping anak laki-lakiku. Memandang wajahnya yang tenang dalam tidurnya, aku terbanyang bagaimana mendiang ayah dahulu memandangku saat aku tertidur, menimangnya juga mengingatkanku bagaimana ibu senantiasa menenangkan aku saat aku menangis. Meski kini aku tidaklah berubah status, namun ada status tambahan yang kini aku sandang: aku adalah seorang ayah.

pagi ini, seperti biasa checking e-mail merupakan hal yang rutin kulakukan jika aku masuk ke jaringan internet. Satu e-mail dari seorang teman, sudah terkirim beberapa hari yang lalu. temanya cukup sederhana: bersyukurlah dengan setiap kehidupan yang dapat kita raih hari ini. judulnya adalah “bersyukurlah dan berbahagialah”. sejenak aku sendiri sudah bisa menebak isi dari cerita tersebut, tapi aku sendiri tidak menyangka bahwa isinya akan sedemikian dalam. isi ceritanya adalah seperti ini, silakan menyimaknya …

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang
menarik.Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu
kepada murid-muridnya di depan kelas.
Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.
" Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di
  sini.Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ?
  Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?" 
Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari Pak Guru,
" Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidup kalian ..."
Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan Pak Guru itu
menunjuk pada seorang murid.
" Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui ?
  Berbagilah dengan teman-temanmu ..." 
Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid,
" Seminggu yang lalu, adalah saat-saat yang sangat besar buat saya.
  Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang saya
  impikan selama ini."
 Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.
" Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa
  mengalahkan kebahagiaan itu !" 
Pak Guru tersenyum.Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya.
Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir.
Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil.
Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri.
Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.
Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka
dapatkan. Hampir semua telah bicara,hingga terdengar suara dari arah belakang. 
" Pak Guru ... Pak, saya belum bercerita."
 Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar.
Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar
yang mereka punya.
 " Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua," ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu.
" Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?" ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.
" Keberhasilan terbesar buat saya, dan juga buat keluarga saya adalah...
saat nama keluarga kami tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari yang lalu."
 Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas
itu.Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar
cerita itu. Dari sudut kelas, ada yang berkomentar,
" Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon.
  Buku Telepon? Betapa menyedihkan ... hahaha ..."
 Dari sudut lain, ada pula yang menimpali,
" Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu ?"
Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.
Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.
" Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak ..."
 Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara.
" Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan.
  Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik.Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah.
  Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi." 
Matanya tampak menerawang.Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia
melanjutkan.
" Tapi, kini Papa telah berubah.Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga saya.
  Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal
  buat bekerja.Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa saya.
  Dan kini, Papa berhasil.Bukan hanya itu, Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami.
  Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi."
" Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon?
  Itu artinya, saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa
  untuk terus berlari.Itu artinya, saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya
  sayangi. Itu juga berarti, saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam
  yang dingin.Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya, adalah sama derajatnya
  dengan keluarga-keluarga lainnya." 
Matanya kembali menerawang.Ada bulir bening yang mengalir.
" Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti..." 
Kelas terdiam.Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk.
Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan.
Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.
Mereka juga belajar satu hal :
" Bersyukurlah dan berbahagialah setiap kali kita mendengar keberhasilan
  orang lain.Sekecil apapun ...Sebesar apapun ..."

cerita di atas yang baru saja anda baca, kembali memberikan inspirasi untuk mensyukuri setiap detik kehidupan yang telah kita lewati. apapun adanya kita, apa yang dapat kita lakukan hari ini, apa yang dapat kita perbuat untuk esok hari, apa arti dan makna hidup yang kita jalani hari ini.

semoga aku dapat mengajarkan hal ini pada anak-anakku kelak. kebaikan dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup. agaknya hal itulah yang harus terus aku dalami untuk menghadapi hidup ini.

kepada semuanya yang telah memberikan segenap rasa cintanya kepadaku, dari semenjak aku kecil hingga saat ini, rasa syukur yang tak terkira kupanjatkan dari hati yang paling dalam, rasa terima kasihku yang tidak cukup dapat membalas semua rasa yang telah tercurahkan kepadaku, semoga segala rasa cinta yang telah tercurahkan dapat membekas dan memberi makna dan warna dalam hidupku. untuk keluarga kecilku,(alm) ayah, ibu, saudara-saudaraku, teman-teman dan sahabatku, kuucapkan terima kasih atas segala rasa cinta yang telah tercurah. Semoga di hari lahirku ini, aku dapat menghadapi kehidupan ini dengan lebih bijak. terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s