susah cari referensinya…

kata-kata itu pertama kali aku dengar saat aku masih jadi mahasiswa… waktu itu jaman tahun 1997, saat awal-awalnya terjadi krisis moneter di Indonesia. Kata-kata itu terdengar baik saat pembicaraan dengan dosen maupun obrolan dengan sesama mahasiswa. Munculnya kata-kata itu biasanya dipicu dari adanya suatu hambatan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang terkait dengan mata kuliah yang sedang diikuti ataupun tugas-tugas seputar kuliah.

bookpada jamannya tahun 90-an ke bawah, gambar di samping inilah yang dijadikan sebagai “senjata”nya orang kuliahan: BUKU. Atau mungkin lebih tepat dikatakan sebagai PERPUSTAKAAN, dan saat itu perpustakaan merupakan tempat dimana mahasiswa-mahasiswa untuk “mengisi otak”nya dengan berbagai pengetahuan yang ada di perpustakaan. Entah itu yang ada kaitannya dengan kuliah yang sedang dijalani ataupun hanya sekedar mengisi kekosongan otaknya agar dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.

Akibat dari hal itu, muncullah sebutan “kutu buku”, “penghuni perpus” atau apalah yang sejenis dengan itu, bagi mahasiswa yang memang “tongkrongannya” ada di perpustakaan. Sungguh sesuatu hal yang sangat disayangkan bila ada sebutan2 semacam itu, sebab disitulah (saat itu) mahasiswa tersebut “mencari sesuatu” dari apa yang dibacanya. Sungguh patutlah di acungi jempol (tidak hanya satu atau dua saja…) pada orang-orang yang masih mau memanfaatkan waktunya dengan mengunjungi dan membaca koleksi perpustakaan.

waktu itu, internet masih merupakan bahan yang mahal (meskipun secara internet1nominal harganya sama saja Rp. 3000-an), dan speed-na tidak secepat saat ini. 128 kbps waktu itu sudah merupakan speed yang lumayan tinggi…, beberapa bahkan sudah ada yang memasang 512 (tapi masih tergolong langka sekali… bayangkan sudah langka tambah sekali pula…). Waktu itu, teknologi informasi belumlah sepesat saat ini, meskipun beberapa pihak sudah memanfaatkannya. Intinya: belum optimal meski sudah digunakan. Informasi yang tersedia pun belum dalam cakupan yang luas, sehingga waktu itu internet merupakan hal terakhir kalinya untuk mencari informasi. Seringnya justru digunakan untuk komunikasi seperti chatting dan e-mail belaka.

lucunya… dan ini yang kurasakan teramat ironis lucunya …, kata-kata itu (“susah cari referensi“) muncul di jaman sekarang, di saat semua jenis informasi sudah bisa didapat sedemikian mudahnya. Beberapa waktu yang lalu, secara sambil lalu, selentingan kata-kata tersebut terdengar oleh telinga dan sangat mengejutkan sekali. I’m very-very shocked…!!!. Kutelaah kembali apa yang baru saja kudengar: SUSAH CARI REFERENSI, dalam hatiku bertanya: “referensi macam apakah gerangan yang susah dicari?”, “sedemikian susahkah saat ini untuk mencari informasi dan referensi?”, dan berbagai jenis pertanyaan yang sejenis.

2669425pMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (KBBI Daring, dapat diakses di: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php) arti kata referensi sebagai berikut :

re·fe·ren·si /réferénsi/ n 1 sumber acuan (rujukan, petunjuk): kamus dapat dipakai sbg bahan –; 2 buku-buku yg dianjurkan oleh dosen kpd mahasiswanya untuk dibaca: buku wajib dan buku — tersedia lengkap di perpustakaan; 3 buku perpustakaan yg tidak boleh dibawa ke luar, harus dibaca di tempat yg telah disediakan; 4 Ling hubungan antara referen dan lambang (bentuk bahasa) yg dipakai untuk mewakilinya.

sedangkan kata susah: su·sah a 1 rasa tidak senang (krn sukar, sulit, berat, dsb): — benar memenuhi permintaannya; 2 merasa tidak aman (dl hati); selalu gelisah dan khawatir; sedih: bukan main — hatinya menerima kenyataan pahit itu; 3 sukar: masalah itu — sekali mengatasinya; 4 tidak mudah (mendapat, mencari, dsb): — mendapat pembantu serajin dia; 5 kekurangan; miskin: hidupnya kini serba –;

360px-Open_book_01.svgsehingga, berdasarkan kedua kata tersebut, kondisi yang dialami oleh mahasiswa tadi merupakan sebuah kondisi yang terasa berat sekali (mungkin juga dilandasi rasa tidak suka) untuk mencari sumber acuan. Hal ini dapat dilandasi beberapa hal, antara lain:  1. Ketidaktahuan cara dan tempat mencari referensi, 2. Kebingunan individu yang dialami oleh mahasiswa, 3. Ketidakpahaman informasi, 4. Ketidaktahuan tentang teknologi informasi, dan masih banyak penyebab lainnya. Hal yang perlu disoroti saat ini adalah dimana hal tersebut terjadi? umumnya bila disuatu universitas, paling tidak buku-buku acuan sudah tersedia di perpustakaannya, ditambah bila di kampus tersebut (ataupun di sekitar kampus) terdapat koneksi internet (Warnet dsb), maka tentu saja kata-kata tersebut sebenarnya tidak akan muncul dari mulut seorang mahasiswa, kecuali bila kondisi yang dialami oleh mahasiswa tersebut adalah faktor yang sangat signifikan terjadi pada manusia, yaitu: MALAS.

Tengoklah saat ini, tidak hanya di lingkungan kampus universitas saja, internet bahkan sudah sampai ke lingkungan Sekolah Dasar. Ditambah lagi, di penghujung tahun 2010, pemerintah Indonesia mencanangkan Internet Masuk Desa sudah tuntas terselesaikan, sehingga program desa pintar dapat terwujudkan.(baca : 2010 Internet Masuk Desa Tuntas, atau di Internet Masuk Desa di Seluruh Indonesia pada 2010?) huebat toh….

Kembali pada permasalahan, melihat dari hal tersebut, maka seharusnya untuk mendapatkan referensi bukanlah menjadi sesuatu hal yang susah. Tengoklah di internet telah tersedia berbagai macam mesin pencari yang handal dan dapat digunakan dengan baik, semacam Gooogle google_hack, Yahoo!, Bing, dan lain sebagainya. Atau bila ingin brainstorming, selain dengan mesin pencari dapat pula menggunakan fasilitas dari Wikipedia. Yang diperlukan hanyalah kata kunci (keyword). Cukup mengetikkan kata kunci tersebut, dan serangkaian informasi yang kita perlukan pun akan muncul. Permasalahannya adalah bagaimana cara mensortir informasi yang benar-benar kita perlukan dan informasi yang tidak kita perlukan. Nah disinilah kelincahan kita perlu diasah. Seperti kata pepatah “practice made perfect…” … selamat menjelajah

2 responses to “susah cari referensinya…

  1. Om Pram…gimana kabarnya? wah tambah mantap aja nih..

    • pramudiyanto

      alhamdulillah kami sekeluarga sehat dan baik-baik saja. Bagaimana kabar sebaliknya? Sekarang dimana neh? ga’ dijogjakarta lagi pow?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s