farewell, mom…, I’ll see you in the next life…

Jum’at, 20 Agustus 2010, pukul 03.30

pagi itu, aku bangun terkantuk-kantuk, setelah semalaman aku mencoba untuk menemani kedua anakku tidur. Sementara itu aku sendiri juga sudah terlalu capek setelah seharian aku beraktivitas di luar dan ditambah setelah semalam aku periksa ke dokter keluarga, aku terkena batuk alergi namun ringan, tidak seberat istri dan anakku yang pertama. Namun yang namanya obat tetap saja jadi membuat aku lemas dan pengennya tidur saja. Seperti biasa, ibu yang sudah kurang lebih 10 hari bersamaku, masih terdengar suaranya, berteriak-teriak memanggil-manggil siapapun yang diingatnya. Tak terkecuali pagi ini, beliau memanggil namaku, berkali-kali …

dengan wajah yang masih kuyu setelah bangun dari tidur, aku mendekati ibu yang masih terlentang di tempat tidurnya. Saat itu aku masih melihat ibu dalam kondisi yang sama seperti biasanya, tidak ada tanda-tanda apapun yang aneh pada ibu. Hanya saat itu, ibu meracau tentang sesuatu yang datang, entah apa itu, dan terlebih lagi dengan kondisiku yang masih kuyu, aku tidak begitu menanggapi apa yang ibu katakan. Aku hanya membetulkan posisi selimut ibu yang seperti biasa juga sudah kalang kabut kemana-mana. Kemudian aku keluar kamar untuk sahur. Itulah terakhir aku melihat ibu dalam keadaan masih sadar dan hidup…

selesai sahur, dengan kondisi yang masih saja tetap kuyu, aku menunggu saat shalat shubuh. Karena kondisi yang tidak memungkinkan bagiku untuk shalat berjamaah di mesjid dekat rumah, aku memutuskan untuk shalat berjamaah dengan istriku di rumah saja. Saat itu tidak lagi terdengar suara ibu memanggil-manggil, mungkin beliau sudah tidur kembali. Karena aku pun juga sudah tidak kuat menahan kantuk, aku kembali merebahkan diriku di kasur, terlelap…

aku tidak tahu jam berapa istriku bangun, namun yang pasti dia bangun terlebih dahulu daripada aku dan anak-anakku. bahkan anak-anakku bangun setelah istriku bangun. entah jam berapa, tapi yang pasti aku dibangunkan istriku karena kedua anakku selesai mandi, dan seperti biasanya, aku kena jatah untuk menyuapi bubur anakku yang kedua, Azka, yang baru berumur 7,5 bulan. Sedangkan istriku, seperti biasa menyeka ibu dengan air hangat dan menyiapkan sarapan pagi bubur nasi yang dibeli kakakku di pasar. Aku lantas berinisiatif untuk sekalian mandi agar bisa menghilangkan sedikit rasa kantukku yang masih menyerang.

Jum’at, 20 Agustus 2010, pukul 08.00

baru saja selesai mandi, istri semerta-merta dengan sedikit berlari menghampiriku sambil mengatakan untuk mengecek kondisi ibu. sebab ibu tidak menampakkan reaksi apapun saat istriku mondar-mandir di sekitar kamar ibu. Dengan sedikit tergesa-gesa aku menuju kamar ibu. sekilas melihat wajah yang sudah diam tanpa ada ekspresi, hatiku sudah mengatakan bahwa ibu sudah pergi, dan tak akan kembali lagi. namun, aku tetap saja menempelkan jariku pada nadi di bawah rahangnya. Dingin dan tak ada denyut nadi apapun. Semerta-merta aku mengatakan “innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun…” Aku lantas berlari keluar untuk meminta tetangga untuk datang memeriksa kondisi ibu, siapa tahu aku salah. Selama aku mencari tetangga sebelah rumah, sekembalinya aku mendapati beberapa tetangga dekat sudah datang dan ibu sudah terbujur kaku. Salah seorang tetangga kemudian menyiarkan kematian ibu di mesjid dekat rumah, yang teringat waktu itu adalah memberitahu saudara-saudaraku semuanya, baik yang ada di Yogyakarta maupun yang di luar kota.

Jum’at, 20 Agustus 2010, pukul 16.00

prosesi penguburan jenazah ibu Sri Syamsiati Cholimah dimulai. Ibu dimakamkan di sebelah makam almarhum ayah, yang telah meninggal pada tahun 2001 yang silam.

DSC00473   DSC00475 DSC00474   DSC00479  DSC00479   DSC00492

Selamat jalan, ibu tercinta… Allah ta’ala telah memanggilmu kembali, semoga aku bisa jadi seseorang yang dapat membuatmu bangga di hadapan Allah ta’ala, sebagai seorang anak yang berbakti dan shaleh. Semoga Allah ta’ala berkenan untuk mengabulkan do’aku untuk meringankan dan mengampuni segala dosa dan kesalahan yang pernah kita buat selama kita hidup, semoga Allah ta’ala berkenan untuk memberikan tempat yang terbaik bagi kita di sisi-Nya, dan semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah untuk tetap berada di jalan-Nya.

Ya Allah, engkau telah memanggil seseorang yang telah memberikan kasih sayang yang sedemikian dalam. Maka sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi, mengasuhku, membesarkanku dan mendidikku hingga saat ia kembali kepada-Mu.

ya Allah, tenangkanla ia di alam kuburnya, angkatlah dosa-dosanya, berilah ia tempat yang terbaik di sisi-Mu.

ya Allah, ku sadar, ku tahu, bahwa suatu saat aku akan menyusul, maka jadikanlah aku sebagai seseorang yang mampu meneruskan amal kebaikan ibuku, sehingga tak terputuslah amal-amalnya meskipun ia telah berada di sisi-Mu.

selamat jalan ibu, do’aku selalu menyertai perjalan panjangmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s